Postingan

Kolom Surat Kabar

“Danar…” suara itu lagi.   Berhentilah. Kumohon.   “Danar…”   Aku mendengar tawanya bergema dari kejauhan . Kumohon jangan ke sini. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit. Suara itu menghilang. Peluh membanjiri sekujur tubuhku, nyeri sekali di perut kananku. Aku menggigit telapak tangan kananku sementara tangan kiriku menekan luka yang tidak berhenti mengalirkan darah dari sobekan di perutku. Seseorang datanglah. Tolong aku. Tidak, aku mulai merasa kedinginan, pandanganku mulai kabur. Jam berapa sekarang? Harusnya Ayah sudah pulang. Ku harap dia segera datang, rasanya aku sudah tidak bisa menahan sakit ini lagi. Kriet. Aku mendengar derit dari pintu yang dibuka perlahan. Tidak. Oh Tuhan. Tidak. “Hihihi…” Wanita gila itu. Aku menahan nafas agar tidak ada suara yang bisa ku timbulkan, aku harus bertahan, setidaknya sampai Ayah pulang. “Danar…” Mengapa suara wanita itu terdengar dekat seka...

Karena Aturan Dibuat untuk Dilanggar

Gambar
Sumber Sekelompok muda-mudi ceriwis duduk manis sambil makan kue pukis. Seorang Bapak melempar tatapan nanar ke arah mereka sambil menggeleng pelan. Salah satu dari muda-mudi itu menyadari gerak-gerik si Bapak. “Hei, Bapak itu ngeliatin kita nih. Ngeri ih, pindah yuk!” bisik perempuan dengan atasan Sabrina, dibarengi anggukan persetujuan teman-temannya. Mereka pun membubarkan diri. Si Bapak menggeleng lagi dan matanya fokus pada tulisan... DILARANG DUDUK DI TANGGA   Dasar anak muda.   --- Seorang bocah perempuan memajukan bibirnya beberapa senti, ditariknya kemeja seorang pemuda jangkung berpakaian trendi, mencari perhatian. “Eh? Kenapa dek?” Pemuda itu tersenyum ramah, merasa terhormat didekati bocah perempuan berbaju merah. “Kakak kelas berapa?” Tanya si bocah dengan suaranya yang gemas. “Kakak sudah kuliah dek.” Masih memasang senyum semanis mungkin. “Kakak pinter baca donk ?” “Pastinya. Kenapa dek, ada yang bisa kakak bantu, hm?” Bocah ...

Sempurna

Biru sudah berdiri selama hampir satu jam dalam ruangan itu. Tubuhnya mulai limbung, tetapi otaknya memberi perintah tegas agar kakinya tetap berdiri tegap menopang tubuhnya yang kewalahan.   Berdiri dengan benar . Batin Biru. Dia mengedipkan paksa matanya, menyadarkan dirinya sendiri untuk tetap fokus. Di seberang tempat Biru berdiri, seorang wanita dewasa duduk dengan anggun di balik meja kerja, memeriksa tumpukan dokumen dengan tenang tanpa terganggu kehadiran Biru. “Bertahanlah sebentar lagi.” ujar wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas yang cukup tebal di atas meja. “Baik, Ibu.”   Berdiri dengan benar . Batin Biru, lagi. “Ah!” Tiba-tiba saja Biru mengeluarkan suara, tidak lama tubuhnya ambruk ke lantai. Wanita yang dipanggilnya ibu itu langsung menghentikan pekerjaannya. Dihembuskan panjang nafasnya, dia pun menatap Biru yang kini sedang berusaha bangkit dengan susah payah dihadapannya. “Ku bilang, bertahan. Kenapa juga kau h...

Kunyah saja!

Gambar
Untuk jadi perhatian: Tulisan ini, tulisan ini... Mau ngetik apa ya... Ah! Tulisan ini mengandung kadar kebimbangan sekitar 89,99% jika terdapat hal yang kurang dimengerti, tolonglah mengerti, jangan kamu terus yang maunya dimengerti, egois kamu Roma! ----- Waktu aku masih kecil, aku pikir menjadi dewasa itu rumit. Orang dewasa memikirkan hal-hal terlalu dalam. Mereka bertengkar seolah sebelumnya bukanlah seorang teman dekat. Mereka saling membenci seolah sebelumnya tidak pernah saling cinta.   Mereka senang meremehkan sesuatu yang tampak tidak sempurna. Sebenarnya semua itu untuk apa?   Orang dewasa itu terlalu rumit. Kami saja yang anak-anak jika bertengkar hebat bahkan sampai salah satu menangis, akan berteman kembali dengan cepat. Kenapa juga harus lama-lama berteman dengan rasa benci? Orang dewasa itu rumit sehingga aku tidak ingin menjadi dewasa.   Itu kataku, dulu, sebelum akhirnya aku tidak bisa menolak untuk tumbuh menjadi orang dewasa dan me...