Postingan

Menampilkan postingan dengan label #horor #horror

Kolom Surat Kabar

“Danar…” suara itu lagi.   Berhentilah. Kumohon.   “Danar…”   Aku mendengar tawanya bergema dari kejauhan . Kumohon jangan ke sini. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit. Suara itu menghilang. Peluh membanjiri sekujur tubuhku, nyeri sekali di perut kananku. Aku menggigit telapak tangan kananku sementara tangan kiriku menekan luka yang tidak berhenti mengalirkan darah dari sobekan di perutku. Seseorang datanglah. Tolong aku. Tidak, aku mulai merasa kedinginan, pandanganku mulai kabur. Jam berapa sekarang? Harusnya Ayah sudah pulang. Ku harap dia segera datang, rasanya aku sudah tidak bisa menahan sakit ini lagi. Kriet. Aku mendengar derit dari pintu yang dibuka perlahan. Tidak. Oh Tuhan. Tidak. “Hihihi…” Wanita gila itu. Aku menahan nafas agar tidak ada suara yang bisa ku timbulkan, aku harus bertahan, setidaknya sampai Ayah pulang. “Danar…” Mengapa suara wanita itu terdengar dekat seka...

A Boy Called Billy

Gambar
deviantart-so-sad-by-mazaises “Bau amis!” “Anak ikan!”   “Bajak laut!” “Dasar cacat!”   Ejekan itu ibarat camilan sehari-hari bagi Billy, seorang bocah berusia dua belas tahun yang lahir dalam keluarga penjual ikan di sebuah desa dekat pesisir pantai. Dirinya memiliki kelainan fisik, kaki kirinya lebih kecil dari kaki kanannya karena penyakit polio yang ia derita saat berusia 4 tahun. Sedangkan mata sebelah kanannya tidak bisa melihat semenjak ia dilahirkan sehingga kelopak matanya tertutup seiring pertumbuhan usia Billy, membuat anak-anak seusianya kerap melemparkan ejekan-ejekan yang menyerang fisik Billy. Tidak hanya anak seusianya, terkadang orangtua mereka pun memandang rendah pada Billy, tak ayal mereka melarang anak-anak mereka untuk bergaul dengan Billy, bahkan oleh orangtuanya sendiri dia sering dimarahi dan dibentak dengan kasar. “Pegang pisaunya dengan benar, dasar anak tidak berguna!” Bentak sang ayah, dengan tangan kecilnya y...