Postingan

Menampilkan postingan dengan label #fiksi

Ini Dilanku, Tahun 2018.

Sudah jam sebelas malam, dan aku masih sibuk berguling di atas kasur minimalisku. Besok ada kelas pagi, aku harus cepat tidur, jarak rumah dan kampus yang terbilang lumayan membuatku harus berangkat lebih pagi demi tidak diusir dari ruang kelas karena terlambat, huft. Kupaksa mataku terpejam, tapi gagal. “Agh!” Aku menendang selimut, sebal, ini gara-gara tadi sore aku menonton film horor di bioskop. Selalu saja berakhir seperti ini, gelisah. Rasanya adegan-adegan yang aku lihat tadi terus saja membayang di kepala. Kesal sekali. Kuputuskan untuk membaca buku saja, mungkin dengan membaca buku bisa membuatku mengantuk. Semoga saja mempan. Aku pun menyalakan lampu di mejaku dan meraih satu buku yang kuletakkan tidak jauh dari posisi lampu. Ting! Gerakan tanganku terhenti saat aku melihat ada pesan masuk pada gawaiku lewat aplikasi Fine . Melihat nama yang muncul di sana, aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku. Daripada buku, tanganku beralih meraih gawai berwarna...

Kolom Surat Kabar

“Danar…” suara itu lagi.   Berhentilah. Kumohon.   “Danar…”   Aku mendengar tawanya bergema dari kejauhan . Kumohon jangan ke sini. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit. Suara itu menghilang. Peluh membanjiri sekujur tubuhku, nyeri sekali di perut kananku. Aku menggigit telapak tangan kananku sementara tangan kiriku menekan luka yang tidak berhenti mengalirkan darah dari sobekan di perutku. Seseorang datanglah. Tolong aku. Tidak, aku mulai merasa kedinginan, pandanganku mulai kabur. Jam berapa sekarang? Harusnya Ayah sudah pulang. Ku harap dia segera datang, rasanya aku sudah tidak bisa menahan sakit ini lagi. Kriet. Aku mendengar derit dari pintu yang dibuka perlahan. Tidak. Oh Tuhan. Tidak. “Hihihi…” Wanita gila itu. Aku menahan nafas agar tidak ada suara yang bisa ku timbulkan, aku harus bertahan, setidaknya sampai Ayah pulang. “Danar…” Mengapa suara wanita itu terdengar dekat seka...

Sempurna

Biru sudah berdiri selama hampir satu jam dalam ruangan itu. Tubuhnya mulai limbung, tetapi otaknya memberi perintah tegas agar kakinya tetap berdiri tegap menopang tubuhnya yang kewalahan.   Berdiri dengan benar . Batin Biru. Dia mengedipkan paksa matanya, menyadarkan dirinya sendiri untuk tetap fokus. Di seberang tempat Biru berdiri, seorang wanita dewasa duduk dengan anggun di balik meja kerja, memeriksa tumpukan dokumen dengan tenang tanpa terganggu kehadiran Biru. “Bertahanlah sebentar lagi.” ujar wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas yang cukup tebal di atas meja. “Baik, Ibu.”   Berdiri dengan benar . Batin Biru, lagi. “Ah!” Tiba-tiba saja Biru mengeluarkan suara, tidak lama tubuhnya ambruk ke lantai. Wanita yang dipanggilnya ibu itu langsung menghentikan pekerjaannya. Dihembuskan panjang nafasnya, dia pun menatap Biru yang kini sedang berusaha bangkit dengan susah payah dihadapannya. “Ku bilang, bertahan. Kenapa juga kau h...