Kolom Surat Kabar
“Danar…” suara itu lagi. Berhentilah. Kumohon. “Danar…” Aku mendengar tawanya bergema dari kejauhan . Kumohon jangan ke sini. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit. Suara itu menghilang. Peluh membanjiri sekujur tubuhku, nyeri sekali di perut kananku. Aku menggigit telapak tangan kananku sementara tangan kiriku menekan luka yang tidak berhenti mengalirkan darah dari sobekan di perutku. Seseorang datanglah. Tolong aku. Tidak, aku mulai merasa kedinginan, pandanganku mulai kabur. Jam berapa sekarang? Harusnya Ayah sudah pulang. Ku harap dia segera datang, rasanya aku sudah tidak bisa menahan sakit ini lagi. Kriet. Aku mendengar derit dari pintu yang dibuka perlahan. Tidak. Oh Tuhan. Tidak. “Hihihi…” Wanita gila itu. Aku menahan nafas agar tidak ada suara yang bisa ku timbulkan, aku harus bertahan, setidaknya sampai Ayah pulang. “Danar…” Mengapa suara wanita itu terdengar dekat seka...